Grand
FinalDSM
City Slalom digelar di Jakarta. Meriah, menggugah adrenalin dan penuh
dengan hiburan menarik.
Sabtu
(23/11/13) penikmat dan pecinta slalom
di
ibukota Jakarta kembali disuguhkan acara slalom paling dahsyat tahun
ini, yakni grand final kejuaraan nasional Djarum Super Mild City
Slalom 2013. Acara yang disponsori oleh Djarum Super Mild ini
dilangsungkan di Parkir Timur Senayan Jakarta.
Parkir
Timur Gelora Bung Karno Senayan dipilih karena strategis dan luas.
Selain itu, kondisi aspalnya juga cukup baik untuk dipakai slalom.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa dibutuhkan lintasan aspal yang rata
dan baik untuk, memaksimalkan atraksi ban ketika mengitari cone.
Aspal yang rata dan mulus juga memudahkan peserta atau atlet slalom
melakukan gerakan-gerakan indah di atas track slalom.
Kombinasi
semua hal itu menjadi tontonan yang tidak hanya sangat menarik, namun
memberi kejutan-kejutan. Tak heran jika penonton bisa larut dalam
lautan adrenalin peslalom dan tanpa sadar terkadang menjerit
ketakutan, greget atau bahkan sedih, ketika peslalom andalannya
melakukan kesalahan saat mengambil titik pengereman atau mengeksekusi
tikungan.
Kembali
ke aspal. Kondisi aspal yang memadai ditambah skill peserta yang luar
biasa, membuat perhelatan Seri 7 atau grand final sangat seru dan
sengit sekali. Catatan waktu para peslalom juga hanya terpaut tipis.
Saya sampai deg-degan menunggu sampai panitia mengeluarkan hasil
resmi pemenang.
Beruntung
di acara ini, penyelenggara dari Genta Auto Sport bersama Djarum
Super Mild
mengerti ketegangan yang baru saja dialami oleh peserta, dan terutama
penonton. Menjelang malam, acara ini mempersembahkan defile dimana
semua peslalom beserta tim dan mekanik mengelilingi arena,
dilanjutkan dengan menyanyikan Indonesia Raya. Setelahnya, giliran
dancer-dancer beraksi! Yeah! Semangat kembali memuncak seiring
hentakan
musik dan gerakan dinamis para dancer.
Setelah
malam semakin larut, ketika cuaca semakin dingin, venue Djarum
Super
Mild
City Slalom justru semakin “panas”. Penonton bahkan tampak terus
memenuhi Parkir Timur. Di akhir acara, para penonton disuguhkan live
DJ,
dan percussion. Benar-benar pengalaman yang menyenangkan.
Pemenang
Kejurnas Umum
:
1.
H.M Rihan Variza Honda Jazz
2.
Mico Mahaputra Toyota Etios 3. Rizky TJ Honda Jazz 4. James
Sanger Honda Jazz 5. Anjasara Wahyu All New Jazz DKI
6.
Raditya PA Honda Jazz Jatim 7. Anggana Toyota Yaris 8.Eddy
Sadikin Honda Jazz DKI 9.Adrianza Yunial Honda Jazz 10. Demas
Agil Toyota Yaris
Rio Haryanto, mulai mengenal balapan di usia enam tahun. Saat itu, Sinyo Haryanto, sang ayah yang mantan juara nasional kart race 2001 mengajaknya mencoba menaiki gokart. Ternyata, benar kata pepatah, buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Begitu pula Rio. Darah pembalap yang mengalir di tubuhnya membuatnnya jatuh cinta terhadap kendaraan kecil yang mampu berlari cepat ini (gokart-red).
Melihat minat yang tumbuh di dalam tubuh anaknya, Sinyo semakin “menenggelamkan” Rio untuk serius membalap. Ayahnya pun sering mengajaknya ‘tour Eropa’ untuk mengasah keahliannya. Langkah ini membawa perkembangan keahlian Rio. Tahun 2006 Rio menggondol gelar juara di ajang Asian Karting Open Championship-ROK Junior dengan nilai 127. Masih ditahun yang sama, Rio menjadi juara di Asian Karting Open Championship - Formula 125 Junior Open, dengan nilai 83.
Lompatan prestasi dan keahlian Rio membawanya ke ajang balap formula single seater. Tahun 2008 dia terjun ke ajang Asian Formula Renault Challenge, dan meraih posisi enam dengan nilai 160. Masih di tahun yang sama, putera Indah Peniwati ini, berlomba di ajang Formula Asia 2.0. Di perlombaan ini, dia berada di posisi tiga dengan nilai 121, yang didulang dari 13 balapan.
Setahun kemudian, Rio yang berusia 16 tahun, hijrah ke Formula BMW Pacific. Pengalamannya berlaga di ajang Formula Asia 2.0 dan Asian Formula Renault Challenge, membuatnya lebih matang. Kini, prestasi Rio semakin baik, namun belum sempurna. Sebagai langkah menyempurnakan keahlian balapan, mental dan teknik bertanding, Rio dilatih oleh Dennis van Rhee pelatih dan mekanik asal Belanda. Langkah ini mulai menuai hasil. Buktinya adalah podium ketiga dan pertama yang dipersembahkannya kepada Indonesia saat mengikuti balapan pembuka F1 yang berlangsung di Sirkuit Sepang, Malaysia, 5 April 2009.
Keberhasilan ini juga berkat perhatian yang ditunjukkan oleh pemerintah Indonesia melalui Menegpora Adhyaksa Dault. “Perhatian, dan motivasi ditunjukkan oleh Menpora Adhyaksa Daud. Pak Menteri membantu “mencarikan” sponsor, papar Rio saat diwawancarai oleh Autosport Indonesia.
Peran sponsor sangatlah penting bagi perkembangan atlet olahraga bermotor Indonesia. Pasalnya, biaya untuk mengikuti kompetisi motor sport tidak murah. “Diperlukan dana sebesar 400.000 Euro (lebih dari Rp 5,9 miliar), untuk ikut ke formula BMW. Dana yang dikeluarkan ini tergantung tim yang kita inginkan,” jelas Rio. “Uang ini dibayarkan kepada tim Meritus (tim yang menaungi Rio), untuk satu musim yang terdiri dari 15 seri, dan sudah termasuk biaya teknis, mekanik, hingga perbaikan mobil jika terjadi kerusakan,” imbuhnya. “Saat ini yang menjadi sponsor adalah oli Top One, PT. Djarum, dan Kiki stationary,” lanjut penggemar Ayrton Senna dan Michael Schumacher.
Pun demikian, masalah dana disikapi secara professional oleh manajemen Rio. Bagi mereka, prestasi yang baik akan mendatangkan sponsor. Prestasi yang baik pula akan mempermudah impian anak 16 tahun ini untuk melangkah ke balapan yang lebih tinggi tingkatannya. “Setelah Formula BMW, saya akan mengikuti Formula 3 Euroseries, lalu GP2,” harap Rio. Dari jenjang karier yang disebutkannya, jelaslah bahwa Rio mengincar karier sebagai pembalap F1. “Itu impian saya,” aku pria yang kini bersekolah di Singapura.
“Mudah-mudahan bisa tercapai di 2014,” cetusnya. Tidak mudah untuk mencapai impian itu, karena selain masalah dana yang besar dibutuhkan pula konsistensi Rio untuk tampil dalam tiga besar di tiap balapan yang diikutinya, dan ini dimulai dari formula BMW Pacific. “Saya yakin mampu menyamai prestasi Zahir Ali (juara umum) di formula BMW,” kata Rio optimis. Saat ini Rio berada di posisi tiga klasemen pembalap di bawah Gary Thompson (Irlandia) dan Chris Wootton (Australia).
Impian Rio sebenarnya dapat segera terwujud, karena tim A1 Indonesia sudah menyatakan memantau perkembangan Rio. “Secara skill sudah ada, cuma kami sedang memantau perkembangan mentalnya. Pasalnya kompetisi A1 sangat ketat. Dia harus mengasah bakatnya untuk menemukan karakter dirinya sebagai seorang pembalap,” papar Indra Hendradi, PR and Promotion Manager A1 Team Indonesia.
Jalan menuju pentas balapan internasional yang lebih tinggi telah terbuka lebar. Selanjutnya, sebelum naik kelas (melanjutkan kariernya), Rio harus keluar sebagai juara di Formula BMW, atau setidaknya berada di tiga besar.
Pembalap asal tim Toyota Top 1 Garda Oto, Fitra Eri mendominasi putaran pertama balap Asian Touring Car-Max di Sirkuit Sentul, Minggu 16 Agustus 2009. Start dari grid pertama, setelah mencatat waktu tercepat pada sesi kualifikasi dengan catatan waktu 1:51,169, Fitra melesat meninggalkan lawan-lawannya. Dari lap ke lap, Fitra semakin jauh meninggalkan pembalap lain.
Persaingan seru justru terjadi antara Syafiq Ali dan Roy Haryanto, yang berebut posisi dua di belakang Fitra. Roy yang start tepat di belakang Syafiq, menyalip pembalap asal Malaysia tersebut dua lap kemudian. Syafiq sempat merebut kembali posisinya di lap 4 namun dua tikungan kemudian Roy kembali menyalip Syafiq.
Selama balapan tersebut, Syafiq lebih cepat di tikungan sementara mobil Roy unggul di trek lurus. Posisi itu terus bertahan hingga menjelang finis. Di tikungan terakhir lap ke 15, Syafiq kembali mencoba melewati Roy, dan berhasil. Sementara Fitra sudah masuk finis 15 detik di depan Syafiq.
“Sebetulnya saya mengharapkan pertarungan yang ketat. Sebab, catatan waktu semua pembalap saat kualifikasi kemarin cukup rapat,” ujar Fitra Eri. Menurut Fitra, faktor persiapan yang cukup menjadi penentu kemenangannya itu. “Tim kami sudah melakukan persiapan sejak bulan Feruari. Kami melakukan sejak jauh-jauh hari karena event ini adalah event internasional pertama bagi tim kami.” Mengomentari pertarungannya dengan Syafiq Ali, Roy mengaku cukup menikmati balapannya kali ini.
Menurut Roy, antara Syafiq dan dirinya saling memiliki keuntungan. “Spesifikasi mobil kami berbeda, masing-masing kami punya keunggulan,” ujar Roy. Dalam balapan ini Roy menggunakan Honda Jazz sementara Syafiq menunggang Proton Neo.
Satrio Hermanto, pembalap A1 Team Indonesia yang turun di F3 Inggris, membukukan hasil yang tidak menggembirakan saat berlaga di Sirkuit Silverstone, Inggris 16 Agustus silam. Rupanya, bekal persiapan fisik dan pengenalan terhadap sirkuit, tidak cukup untuk memperbaiki posisi yang diraihnya pada kualifikasi kemarin. Setelah menjalani balapan selama 23 lap pada balapan pertama, Satrio akhirnya finish di posisi ke-21 atau ke-5 untuk kelas National yang diikutinya setelah start dari posisi ke-20.
Sementara itu, di balapan kedua yang juga berlangsung selama 23 lap, Iyo (sapaan akrab Satrio) juga tidak mampu memperbaiki posisinya. Dia hanya finish di posisi 21. "Sepanjang balapan saya mencoba untuk menempel lawan, dan meningkatkan irama balapan, namun tampaknya saya masih butuh waktu untuk mempelajari karakter mobil ini," paparnya. "Sepertinya saya sudah memacu hingga batas maksimal kemampuan yang chassis ini bisa berikan, tapi rasanya sulit sekali mendekati pembalap yang menggunakan chasis Dallara, saya harus menemukan settingan yang ideal untuk menyempitkan jarak dengan mereka," komentar Satrio di akhir balapan.
Prestasi Iyo di kejuaraan F3 Inggris ini dapat dimaklumi, pasalnya tingkat kompetisinya yang tinggi. Pun demikian, jika berhasil merajai kompetisi ini,langkah menuju balapan F1 terbuka lebar. Ini sudah dibuktikan oleh pembalap Spanyol Jaime Alguersuari yang baru saya melakukan debutnya di GP Hungaria bersama tim F1 Scuderia Toro Rosso. Jaime adalah juara F3 Inggris tahun 2008. Kejuaraan ini memiliki dua kelas yang dilombakan secara bersamaan, yaitu kelas International, dan kelas National. Kelas International menggunakan chassis keluaran terbaru, sementara kelas National menggunakan chassis keluaran yang lebih lama.
Sejak mulai dijual (perode 9-25 April silam), angka pemesan Tata Nano telah mencapai 500.000 orang. Kekuatan Nano adalah pada harganya yang berada di kisaran £1700-£2200. Target marketnya adalah keluarga golongan menengah ke bawah, yang mobilitas sehari-harinya memakai sepeda motor. Tujuannya cukup mulia: membuat mobil murah agar keluarga dari golongan menengah itu mampu memiliki mobil, dan dapat melindungi anggota keluarganya dari terpaan hujan dan angin.
Semangat ini pernah ditunjukkan oleh Henry Ford (founding father Ford Motor Company) dengan meluncurkan Ford T. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, para manufaktur Eropa dan Amerika tidak lagi menyasar pada produk berbasis wong cilik. Inilah yang menjadikan Ratan Tata (pemilik Tata) patut kita apresiasi positif. Bayangkan sebuah mobil yang harganya sangat murah, diperuntukkan untuk wong cilik. Sebuah mobil yang pantas dimiliki (walaupun fiturnya pas-pasan) namun, tetap terasa bagai sebuah mobil (bukannya bajaj tiga roda).
Mengapa Ratan Tata menghasilkan Tata Nano untuk masyarakat India? Ini ada kaitannya dengan kepadatan penduduk India dan tingginya pengguna kendaraan roda dua di India. Akhirnya, keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan dua anaknya tumplek blek jadi satu di atas motor, merupakan pemandangan yang jamak di India. Kini mereka bisa mengubah keadaan itu dengan membeli Tata Nano. Formulir pemesanan telah terkirim dari 30.000 lokasi seputar India. Dan mereka harus menambah £2 untuk mendapatkan formulir itu. Sukses buat Tata.
Sebastien Vettel dan Mark Webber membuktikan bahwa Anda tidak butuh diffuser bertingkat (seperti milik Brawn GP) untuk menjadi seorang jawara di kompetisi F1. Tanpa diffuser bertingkat, mereka finish di posisi pertama dan kedua di GP China yang berlangsung Minggu, 19 April 2009. Mereka berdua berhasil mempersembahkan kemenangan pertama bagi Red Bull Racing di F1.
Keberhasilan ini tidak bisa dilepaskan dari faktor hujan yang turun dengan derasnya. Seperti yang sudah diketahui, Sebastien Vettel sangat piawai mengendarai mobil F1 di kondisi basah. Bahkan, Michael Schumacher pun memuji keahliannya meramu kecepatan di saat hujan. Start dari posisi pertama, dengan mudah Vettel memenangkan GP China. Jenson Button, pemimpin klasemen sementara, tidak mampu mengimbangi kecepatan Red Bull bermesin Renault. Di belakangnya, bercokol Rubens Barrichello. Hasil GP China 1 Vettel (Red Bull-Renault) 1h57:43.485 2 Webber (Red Bull-Renault) +10.970 3 Button (Brawn GP-Mercedes) +44.975 4 Barrichello (Brawn GP-Mercedes) +1:03.704 5 Kovalainen (McLaren-Mercedes) +1:05.102 6 Hamilton (McLaren-Mercedes) +1:11.866 7 Glock (Toyota) +1:14.476 8 Buemi (Toro Rosso-Ferrari) +1:16.439 9 Alonso (Renault) +1:24.309 10 Heidfeld (BMW Sauber) +1:31.750 11 Bourdais (Toro Rosso-Ferrari) +1:34.156 12 Raikkonen (Ferrari) +1:35.834 13 Kubica (BMW Sauber) +1:46.853 14 Fisichella (Force India-Mercedes) +1 lap 15 Rosberg (Williams-Toyota) +1 lap 16 Piquet (Renault) +2 laps
Mikko Hirvonen yang memacu Ford Focus, sempat memberikan perlawanan, sayangnya tidak cukup ampuh untuk membenamkan Loeb. Mikko hanya unggul dari Dani Sordo yang berada di posisi tiga. Dani Sordo, merasa sangat senang mampu finish ketiga. “Meskipun mobil start setiap dua menit, debu yang beterbangan tetap mengganggu pandangan. Mobil C4 kami juga rusak akibat empasan batu. Begitu debu mulai hilang, Mikko Hirvonen (posisi dua) sudah tak terkejar. Pun demikian, saya merasa sangat nyaman dengan mobil ini sepanjang rally,” papar Sordo. Selanjutnya, WRC akan digelar di Argentina mulai 24-26 April.
Lima besar rally Portugal 1. Loeb/Elena (Citroën C4) 3 jam 53 menit 13,1 detik 2. Hirvonen/Lehtinen (Ford Focus) +24,3 detik 3. Sordo/Marti (Citroën C4) +1menit, dan 45,4 detik 4. Solberg/Mills (Citroën Xsara) +2menit 44,6 detik 5. Solberg/Menkerud (Ford Focus) +5menit 46,3 detik
Klasemen Sementara Pabrikan 1. Citroën Total WRT, 64 poin; 2 BP Ford Abu Dhabi, 40 poin; 3 Stobart VK M-Sport, 27 poin; 4 Citroën Junior Team, 11 poin.
Klasemen Sementara Perally 1. S. Loeb, 40 poin; 2 M. Hirvonen, 30 poin; 3 D. Sordo, 23 poin; 4 H. Solberg, 14 poin; 5 Petter Solberg 14 poin; 6 Matthew Wilson 8 poin
Semangat 3M (Mari Menjegal McLaren) sudah tampak sejak para tim F1 melakukan beragam test uji coba awal tahun 2009. Pada uji coba yang dimulai bulan Januari-Maret 2009 itu, Lewis Hamilton (juara tahun lalu) dan Heikki Kovalainen, tak tampil baik. Mereka kalah cepat oleh pembalap Ferrari, BMW Sauber, Toyota, Toro Rosso, bahkan Brawn GP yang berhasil mendominasi sesi uji coba. Brawn GP adalah tim Honda yang bersalin nama. Tim asal Inggris ini mengambil nama Ross Brawn yang menjadi prinsipal tim.
Kembali ke hasil uji coba. Apakah ini pertanda prestasi McLaren akan turun tahun ini? Semua kemungkinan bisa saja terjadi. Salah satu indikatornya adalah hasil uji coba tersebut. Apalagi Hal ini diakui oleh Martin Whitmarsh, pengganti Ron Dennis di Mclaren Mercedes mengatakan chassis mereka belum sempurna. Meskipun demikian, Lewis Hamilton tetap tidak bisa dianggap enteng. Sudah dua tahun dia menunjukkan betapa besar kemampuan dan bakatnya.
Lalu, siapa yang akan berjaya? Entahlah, yang pasti, mayoritas tim yang berlaga tetap mempertahankan komposisi pembalapnya. Hanya Red Bull yang mencomot Sebastian Vettel dari Toro Rosso, dan Sebastien Buemi (pembalap yang tampil bagus di F3 Euroseries) masuk menggantikan Vettel di Toro Rosso. Langkah ini membuat sulit bagi saya memprediksi siapa yang akan menjadi juara dunia tahun 2009. Di atas kertas, Hamilton, dan Massa tetap dijagokan, namun dari hasil uji coba performa mereka tidak fenomenal. Justru kekuatan utama terlihat dari Toyota, Red bull Racing dan Brawn GP.
Apakah akan ada juara baru tahun ini? Rasanya bisa saja. Toh, tidak ada yang pasti di dunia ini. Namun jangan lupa, mereka masih harus membiasakan diri dengan perubahan regulasi drastis pada desain mobil yang berbeda secara ekstrem dibanding musim 2008.
Misalnya dari segi aerodinamika. Musim ini, terdapat pelarangan menggunakan fitur tambahan seperti shark fin di bagian belakang, winglets di samping, chimney di sisi luar kokpit, bargeboard di samping, dan bull horn di depan. Pembalap juga harus beradaptasi dengan diffuser baru yang dimensinya telah ditetapkan FIA yakni panjang 350 mm, tinggi 175 mm, dan luas 1.000 mm. Dan, untuk pertama kali sejak 1997, mereka harus memakai lagi ban slick yang diklaim memiliki daya cengkram 20% lebih kuat dibanding ban beralur.
Selain itu, FIA juga telah menerapkan aturan pemakaian mesin maksimum 8 mesin permusim. Ini masih ditambah dengan aturan aplikasi KERS (Kinetic Energy Recovery System). Sistem ini membantu pembalap dalam memberikan dorongan akselerasi singkat pada mobilnya dengan memakai energi yang tersimpan selama pengereman. Selanjutnya, pembalap dapat memanfaatkannya dengan menekan tombol power boost di lingkar kemudi untuk mendapatkan 80 hp tenaga ekstra, selama tujuh detik.
Tahun ini, terdapat lintasan baru di negara Abu Dhabi yang ditempatkan di akhir seri (November 2009). Sirkuit ini terletak di tepi pelabuhan dan Abu Dhabi menjadi negera kedua di Timur Tengah setelah Bahrain yang masuk daftar tuan rumah perhelatan F1. Semua ini membuat F1 2009 lebih menarik untuk disimak.
Anda pecinta Mitsubishi? Jika ya, maka bersiaplah terkejut mendengar kabar ini. Setelah 12 kemenangan, termasuk tujuh kali kemenangan berturut di Rally Dakar, Mitsubishi Motors memutuskan untuk berhenti mengikuti Rally Dakar dan seluruh kompetisi lintas medan lainnya. Keputusan yang dikeluarkan Rabu 4 Februari ini, dipicu oleh tekanan ekonomi akibat krisis finansial global.
Meskipun demikian, keputusan ini disinyalir juga dipicu oleh kekalahan telak Mitsubishi di ajang Rally Dakar 2009. Di Rally ini, Volkswagen dengan Touaregnya berhasil menguasai jalannya kompetisi, dan memenangkan 10 stage dari 13 stage yang ada. Bahkan, Volkswagen berhasil mencatat sejarah sebagai manufaktur pertama yang memenangkan Rally Dakar dngan memakai mesin diesel.
Tim Volkswagen Motorsport berhasil memenangkan Rally Dakar 2009, bersama VW Touareg bermesin diesel.
Tuareg adalah nama suku nomaden yang tinggal di wilayah barat Sahara. Suku ini dikenal suka berpindah-pindah di wilayah padang pasir yang ganas. Rahasia kesuksesan mereka bertahan di medan gurun adalah, daya tahan dan pengetahuan yang luas terhadap iklim gurun dan tantangannya. Berdasarkan riwayat ketangguhan inilah, Volkswagen memakai nama Touareg sebagai nama SUV 4x4-nya miliknya.
Riwayat ketangguhan di balik namanya inilah yang kemudian dibuktikan di ajang Rally Dakar yang berlangsung 3-18 Januari 2009 silam. Setelah 15 hari berada di belakang kemudi, Giniel de Villiers berhasil memimpin tim Volkswagen untuk finish satu dua di Rally Dakar. Giniel de Villiers finish 8 menit, 59 detik di depan Mark Miller yang finish di posisi dua. Sebenarnya, manufaktur asal Jerman ini, hampir saja menempatkan pembalapnya di posisi satu-dua-tiga, seandainya Carlos Sainz tidak mengalami kecelakaan tiga stage menjelang usai.
Dominasi pasukan Volkswagen ini, adalah kulminasi dari prestasi Race Touareg di event Dakar dalam kurun enam tahun. Tak heran, jika de Villiers mengatakan sangat senang mereka berhasil memenangkan gelar ini untuk Volkswagen. Padahal, dia hanya berada di posisi tiga, di tiga stage menjelang finish. Kunci kemenangan de Villiers, yang berasal dari Afrika Selatan ini adalah ketika Carlos Sainz mengalami kecelakaan di stage 12 yang menyebabkan Michael Perin (co-drivernya), patah tulang bahu. Carlos Sainz pun mundur dari Rally Dakar.
Sukses Lokasi Baru
Mengganti lokasi Dakar dari Afrika ke Amerika Selatan untuk musim kompetisi 2009 membuat wajah Rally Dakar, tidak akan pernah sama lagi. Rally yang diselenggarakan tanggal 3-18 Januari silam ini, menyusuri wilayah Amerika Selatan dengan rute Buenos Aires (Argentina), Valparaiso (Chile), dan kembali ke Buenos Aires. Animo masyarakat Argentina pun, sungguh luar biasa. Panitia penyelenggara mencatat setidaknya 500 ribu penonton memadati acara seremonial start dan finish. Sedangkan untuk peserta Dakar kali ini terdiri dari 217 motor, 25 quadbike (motor roda empat), 177 mobil, dan 81 truk, dengan jarak tempuh total 9756 km yang terbagi dalam 13 etape (stage). Pemindahan wilayah ini dikarenakan alasan keamanan di daerah Mauritania (Barat laut Afrika).
Hari pertama rally dibuka dengan stage sepanjang 317 km. Trek yang didominasi tanah berdebu ini, menjadi ajang pemanasan sebelum seluruh peserta diuji ketahanan di medan yang lebih berat lagi. Di stage ini, tim BMW X-Raid yang dibesut oleh Nasser Al Atiyah, berhasil tampil terdepan. Sayangnya, perally andalan BMW X-Raid, Nasser Al Attiyah yang sempat memimpin, terkena diskualifikasi di hari kelima karena dia melewatkan sembilan check point dengan sengaja. Al Attiyah mengaku bahwa mobilnya kehabisan cairan pendingin, dan karena itulah dia terpaksa mencari rute lain demi menghindari daerah berpasir, di mana terletak check point tersebut. Mundurnya Al Attiyah amat disayangkan karena dialah yang dianggap mampu menghadang laju para pereli dari VW.
Mitsubishi dan Kecelakaan
Pada rally Dakar kali ini, Mitsubishi yang dikenal sebagai rajanya Rally Dakar, sama sekali tidak berkutik. Tampil dengan mobil Racing Lancer (di Dakar sebelumnya mereka memakai Pajero), mobil bermesin diesel ini, banyak mengalami kendala teknis. Kendala teknis tersebut dialami oleh perally Mitsubishi asal Jepang, Hiroshi Masuoka yang mundur karena kerusakan mekanis. Sementara itu, Luc Alphand menjadi pembalap Mitsubishi kedua yang mundur karena sang co-driver, Gilles Picard tiba-tiba jatuh sakit. Pembalap Mitsubishi lain yang akhirnya mundur adalah Stephane Peterhansel dikarenakan mesinnya terbakar di hari ke tujuh perlombaan.
Alhasil, nasib Mitsubishi bergantung pada Juan 'Nani' Roma. Hingga hari ke delapan, Roma berhasil bertahan di posisi empat. Nani hanya berhasil finish di urutan ke sepuluh, itupun setelah dia mendapatkan penalti 10 jam karena kesalahan crew Mitsubishi. Bukan suatu hal yang membanggakan bagi tim yang selalu memenangi Rally Dakar sebanyak tujuh kali.
Kejadian mengenaskan juga terjadi di Rally ini. Pembalap motor Pascal Terry yang berumur 49 tahun dinyatakan hilang dan akhirnya ditemukan tak bernyawa diluar jalur rally. Penyebab kematiannya masih misterius hingga saat ini, “Tanggal 4 Januari Pascal menghubungi penyelenggara dan memberitahukan bahwa dia kehabisan bahan bakar dan telah disumbang oleh rekannya. Setelah kami sadar bahwa dia tidak bergerak dari tempat terakhirnya, kami pun mencoba mengontak, tapi tidak ada hasil.” jelas Ettiene Lavigne. Pascal Terry akhirnya ditemukan di daerah semak-semak 15 m dari motornya tanpa mengenakan helm sementara ransumnya masih lengkap. Sedihnya, Terry adalah seorang pecinta Dakar dan ini adalah kesempatan pertama yang telah lama dia mimpikan.